Antara lain:
- Seni kaligrafi dekorasi, naskhah dan mushaf
- Seni kaligrafi masjid
- Seni lukis
- Seni pahat-ukir
- Seni patung
- Seni airbrus
- Seni kriya
- Seni batik kaligrafi
- Pembinaan MTQ Kaligrafi
Pada tahun 2006 Muhammad Assiry Jasiri mengumumkan rencana pendirian wadah untuk menampung aspirasi para seniman lukis dan kaligrafer yang disampaikan secara langsung pada acara pentas seni tahunan KUASS dan pembukaan kursus kaligrafi , yang disambut dengan dukungan dan doa serta semangat dari kader-kader KUASS. Disinilah awal munculnya gagasan untuk mendirikan PSKQ. Rencana mendirikan PSKQ inipun sering disampaikan Muh. Assiry Jasiri disetiap pameran dan pembukaan kursus kaligrafi yang dihadiri oleh ribuan seniman dan kaligrafer di Jawa Tengah meskipun juga banyak kalangan yang meragukan rencana tersebut bisa terwujud. Allah maha indah dan mencintai keindahan, subhanallah wa al hamdulillah Gayungpun bersambut, prestasi yang besar ternyata mendatangkan tanggung jawab yg besar pula, inilah barangkali yang mengilhami Muhammad Assiry Jasiri sepulangnya dari Brunei Darussalam ketika memenangkan juara satu (1) dari semua Cabang kaligrafi yang dilombakan, “Hadza min fadhli rabby, liyabluwani aasykuru am akfuru” (ini adalah karunia Tuhanku, untuk mengujiku apakah aku akan bersyukur atau kufur), untuk sesegera mungkin mendirikan wadah menyalurkan aspirasi dari para kaligrafer dan seniman. Sehingga lahirlah PSKQ tepat pada hari Rabu Wage tgl.17 Januari 2007 yang diawali dengan datangnya santri pertama paket diklat 1 tahun dari Kalimantan Selatan yang bernama Hasanuddin ( seorang alumnus Pesantren Kaligrafi al-Quran LEMKA Sukabumi thn. 2006), untuk memperdalam ilmu kaligrafi dan seni lukis di PSKQ. Disusul kader –kader lain yang tersebar di pelosok Nusantara, Kepulauan Riau, Sumatera Utara, DKI Jakarta, Jawa Barat, Aceh, Kalteng, Kaltim dan Jawa Timur.
Awal Penamaan Pesantren
Sebelum menjadi PSKQ ada beberapa ide nama yang diajukan oleh Muhammad Assiry Jasiri dihadapan pengurus PSKQ, keluarga dan kader. Nama pesantren pertama yang diusulkan adalah Pesantren Kaligrafi Islam (PKI) dengan simbol logonya handam (alat tulis kaligrafi tradisional) dan kuas dan ditengahnya gambar botol tinta. Tapi ide ini membuat kader menjadi tertawa terpingkal-pingkal dan 100% mereka menolak, karna nama tersebut sama dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Kemudian opsi yang kedua, diusulkan nama Pesantren Seni Kaligrafi (PSK). Para kader juga merasa keberatan karena namanya juga mirip dengan Pekerja Seks Komersial (PSK). Setelah melewati beberapa argumnen yang alot, akhirnya PSK berubah menjadi Pesantren Seni Kaligrafi Al-Quran (PSKQ) sampai sekarang.”Ingin tampil beda saja”, kata Muh. Assiry, karna sudah banyak pesantren di indonesia yang namanya berasal dari bahasa Arab,
Ada tiga pandangan tempat awal berdirinya Pesantren Seni Kaligrafi (PSKQ). Yang pertama tanah seluas 1 hektar di Colo Gunung Muria dekat dengan pesarean Sunan Muria tapi pada akhirnya gagal karena tanahnya terlalu mahal. Kemudian yang kedua, ada yang menawarkan tanah wakaf, sebidang tanah seluas 1,5 hektar di Patiayam di daerah perbukitan sangat bagus dan cocok untuk pesantren kaligrafi dengan nuansa pegunungan dan hijaunya pmandangan, tapi akhirnya juga gagal karena salah satu keluarga wakaf ada yang tidak setuju. Pada akhirnya, pilihan terakhir jatuh pada rumah keluarga Bapak Sudiro alm. selaku ayah kandung Muhammad Assiry Jasiri menyarankan untuk mendirikan pesantren dilokasi tanah tersebut sampai sekarang ini yang terletak di Undaan Lor gang 3 Kecamatan Undaan Kabupaten Kudus di tengah-tengah lokasi penduduk yang sangat ramah.PSKQ merupakan pondok pesantren seni satu-satunya dan pertama kali di Indonesia yang menggabungkan seni murni dan kaligrafi sebagai model pembelajan dalam kurikulumnya. Sehingga dalam proses belajar, siswa dapat menerima materi pelajaran lebih sistematis, efektif dan efisien. Terbukti banyak lulusan atau peserta didik PSKQ yang memenangkan kejuaran kaligrafi baik tingkat propinsi, nasional, bahkan tingkat ASEAN. Dan juga menjadi pengusaha sukses kaligrafi.
PSKQ membuka 5 paket belajar dengan berbagai pilihan waktu yang dapat disesuaikan kebutuhan dan keadaan santri. Yang pertama (1) paket 6 bulan, yang kedua (2) paket 1 tahun dan yang ketiga (3) paket seni murni. Program paket 6 bulan dikhususkan untuk kader-kader peserta MTQ, karyawan, dan mahasiswa yang waktunya sangat terbatas.
Yang ke dua, paket Diklat 1 tahun, peserta didik diarahkan untuk pendalaman materi kaidah khath sampai maksimal, dengan pembagian untuk semester satu (6 bulan pertama ) materi khoth naskhi dan tsulust, sementara pada semester dua(6 bulan kedua ), santri difokuskan materi Diwani, Riqah, Ksufi, Farisi, bimbingan dan pelatihan untuk MTQ. Sementara untuk paket seni murni kader-kader dianjurkan untuk mengikuti program tersebut setelah program diklat satu tahun selesai, agar tidak tumpang tindih dan lebih terfokus, sebagai pelengkap dan memupuk keahlian selain kaligrafi murni dan penguasaan MTQ. Program paket seni murni diantaranya: seni lukis, kaligraf ikontemnporer, relief, patung, lukis potret, batik kaligrafi dan lain sebagainya.

